My photo
Saya adalah seorang Hamba Allah.Saya juga seorang anak.Saya adalah isteri dan umie kepada gemboi-gemboi saya.Saya bahagia dengan nikmat Allah selama ini.Alhamdulillah.

Wednesday, December 22, 2010

~Rindu Sang Pejuang~

Salam dan selamat pagi, setiap hari melihat wafiy, saya seakan terpanggil dengan monolog dalam diri wafiy,
Jadi saya ingin kongsi rasa menolog dalaman diri wafiy.
Ya..memang semua orang tahu, anak kecil takkan mampu berkata fasih kan...
Malah setiap yang keluar dari mulut mereka pun kita tak faham,
Tapi saya yakin, sebagai ibu dan juga sebagai hamba Allah kita mampu menyelami rasa hati itu,
Biarpun itu hanya rasa yang keluar dari hati kita, tapi setiap kata seorang ibu itu umpama doa,
Kita mampu membentuk anak-anak kita dengan doa,
Lihat ke dalam hati anak kecilmu, Kita mampu luahkan untuk dia,
Dari itu..insyaallah kita mampu membentuk jati diri apa yang kita mahu untuk diri mereka...
dan ini rungkaian rasa dari saya yang saya cungkil dari hati murni anak kecil saya, Naufal Wafiy...


----------@
Hari ini aku lihat dia tiada,
Aku mencari..dan mencari...
Tapi masih tak jumpa,
Aku terus menunggu tapi nyata kelibatmu tiada,
Aku terus lagi menanti
Melihat jam di dinding,
Walaupun tak ku tahu ntah pukul brapa waktu itu,
Pastinya sudah lewat..
Berkata di dalam hati sendiri..
"Mungkin sekejap lagi pasti di sini"

Waktu terus berganjak,
Aku menonton tv menghilang gundah di hati,
Masih tiada suaramu ku dengari,
Aku menunggu lagi,
Melihat di sekeliling,
Yaa..aku pasti di luar pastinya gelap..
Kerna hari sudah lewat malam,

Mataku seakan redup,
Kerana mengantuk tapi di tahan tahan,
Mahu bertemu dia, Mahu jumpa dia,
Tapi mungkin sekejap lagi dia pulang,
Harapan bergalas di dada,
Nyata kosong,

Dan waktu itu datang wanita yang umpama malaikat bagiku,
Ya..dialah ibuku,
Ku panggil ibu..umie...
Umieku tersenyum sambil membelai rambutku yang belum tumbuh lebat,
Umie kemudian mencium ubunku,
Dan berkata..
"Tidurlah nak...hari sudah lewat"
Ya, umie tahu aku masih anak kecil,
Maka tak mungkin dapat ku balas kata-kata umie,
Lalu ku redupkan mata,
Umpama isyarat peganti kata,
Mataku terasa berat tapi ku tahan lagi,
Umie yang memandangku terus saja tersenyum dan berkata
"kenapa ni nak, kamu tunggu abie ya..."
Ya..abie adalah ayahku, 
Umie benar, Umie tahu..
"ya umie, aku tggu abie" rintihku di dalam hati,
"Mengapa abie belum pulang-pulang begini?" jerit kecil di dalam hati lagi,
Umie malah hanya tersenyum,
"Tidurlah nak, maafkan umie, umie lupa bgtau kamu, abie tidak pulang, abie lagi berjuang..."
oohhh..abie pergi berjuang...
Hatiku jadi tenang,
Soalan hatiku berjawab, aku mampu tidur dengan tenang,
Aku mampu tidur walau rindu berendam di dalam dada,
Hatiku hilang gundah bila membayangkan Sang Pejuang itu adalah ayahku,
Ayahku itu ku panggil abie,
Umie mengajarkan ku erti sabar dalam merindu,
Ya, Aku masih anak kecil,
Aku tak mampu uraikan bahasa jiwa dengan kata2,
Lalu aku berkata dengan memandang,
Ya, aku sedar..abie selalu ketiadaan di rumah,
Hanya umie yang kerap ku lihat dan ku dengar suaranya,
Tapi aku kenal siapa abieku,

Abie adalah Sang Pejuang bagiku,
Ya, umie selalu berkata begitu padaku,
Inginku tanya,
Mengapa abie itu umie panggil Sang Pejuang,
Abieku bukan tentera,
Abie hanya berlelah membanting keringat untuk agama Allah dan memberi nafkah pada keluarga,
Maka itu umie gelar abieku Sang Pejuang,
Pejuang itu berperang di medan perang,
Medan perang.
Kata umie semua kerja di lakukan dengan ibadah adalah medan perang,
Maka bagiku,
Umie juga Sang Pejuang mulia di dalam hatiku,
umie bekerja di siang hari di pejabat,
Pulang menyambung tugas dirumah,
Mengisi masa melayan aku yang hanya anak kecil,

Umie,
Benar kamu umpama malaikat bagiku,
takkan ku berhenti berdoa untukmu,
Moga aku kelak tiada mengabaikanmu,

Abie,
Jangan kau risau tentangku,
Umie ada menemaniku,
Sentiasa mendengarkanku cerita tentangmu,
Sentiasa melayaniku walau dalam lelah sekalipun,
Abie, tak mungkin aku akan lupa padamu,
Kerna kau Sang Pejuangku dan umie,
Kerna keluarnya kau dari rumah, 
Adalah dengan redha umie dan juga aku,
Maka Allah lebih meredhai kamu kerana niatmu,

Abie,
Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu,
Sungguh kau adalah pembawa cintaku kepada Tuhanku,
Biarpun kau sering tidak ku temu,
Kau tetap abieku,

Abie,
Dimana saja kau berada,
Ingatilah aku dan umie dalam doamu,
Doakanlah kemudahan buat kami,
Aku rindu pada abie, suara dan tawamu,
Walaupun aku masih anak kecil,
Aku punya rasa rindu,
Biarlah rindu itu adalah mahabbah yang membawaku kepada cinta Allah,
Rindu dalam keredhaan takkan memakan jiwaku,
Malah dengan redha itu aku mampu tersenyum menunggumu pulang,

Abie,
Selamat berjuang,
Kami nanti kepulanganmu Sang Pejuang,
Berdoalah disana moga anakmu ini mampu menjadi Pejuang Allah sepertimu kelak,
Moga Allah bersama kita,
Aku hanya anak kecil yang belum pandai berkata-kata..
Tapi aku mampu mengurai rasa,
Moga tertambat di jiwa,
Indahnya cinta dan kasih sayang kita sekeluarga,

wafiy sayang abie!

----------@ Umie Aie'sya dan Naufal Wafiy


3 comments:

  1. Salam...sedih dan sayu tatkala membaca post "rindu sang pejuang"..semoga naufal wafiy memahami kehidupan dan liku berAyahkan seorang pejuang agama..semoga kak syazana juga kuat dan tabah...pasti dan yakinlah janji2 Allah swt..

    ReplyDelete
  2. sedih....kisah sya ni...sya selalu kan kene tinggal dok berdua je kat umah, selalu kan.....sesuai sajak ni utk sang suami....perjuangan tanpa suami...moga bahagia suatu hari nnt...

    ReplyDelete
  3. cik/en. anonymous :wassalam..terima kasih atas doanya, moga janji Allah bersama kita..moga Allah barakah kan hidup kamu..amin!

    kak emme:;-)..gembira dan bersyukur!thanks for being a such good sister, alhamdulillah..moga Allah berikan seribu hikmah buat kita ;-)..untukmu sis emme, sya doakan yg terbaik untuk kak emme!

    ReplyDelete

Lagu Kita

Photobucket

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...