My photo
Saya adalah seorang Hamba Allah.Saya juga seorang anak.Saya adalah isteri dan umie kepada gemboi-gemboi saya.Saya bahagia dengan nikmat Allah selama ini.Alhamdulillah.

Friday, March 11, 2011

~Ku Sebut Namanya~


Salam dan selamat pagi,
Alhamdulillah...
Hari ini terasa ingin berbagi rasa yang Allah beri...
Terasa ingin dikongsi perasaan rindu yang bertandang dalam relung hati,
Bagi yang sedang bekerja,
Moga terus barakah rezeki yang mengalir,
Bagi yang sedang berhempas pulas melaksanakan urusan rumah tangga,
Moga lelah itu adalah bekalan untuk dunia di sana,
AMIN!

Saya ingin sekali berbagi rindu ini,
Rindu pada telah tiada,
Rindu pada seorang lelaki yang tak pernah sekali melupakan kita sepanjang hidupnya,
Rindu pada kekasih Sang Pencipta Langit dan Bumi,
Rindu pada Nabi Allah...Nabi Muhammad,
Mungkin kisah yang ingin saya kisahkan saat ini adalah kisah yang sering kamu pernah mendengarkannya..
Tetapi demi rindu yang ingin saya kongsikan..
Saya ceritakan lagi...
Untuk terus mengalir rindu ini pada manusia mulia...Nabi Muhammad s.a.w...
Moga kita sedia untuk kongsikan pada yang kita sayang...
Moga kita selepas ini sering jangan pernah melupakannya,
Ceritakanlah pada anak-anak moga hatinya terus tersentuh dan merinduinya,
Kisah ini terjadi di saat sebelum Rasulallah menghembuskan nafasnya yang terakhir...

Bismillahirrahmannirrahim...



Tiba-tiba ada ucapan salam. “Boleh saya masuk?” lelaki itu bertanya.
 Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk ruangan. “Maaf, ayah saya sedang sakit, “kata Fatimah. 
Ia berbalik kembali dan menutup pintu.
Nabi Muhammad saw. membuka matanya dan bertanya, “Siapa dia, putriku?”
“Aku tidak tahu ayah. Ini pertama kali aku melihatnya,” kata Fatimah lembut.
“Ketahuilah putriku, dia adalah orang yang menghapuskan kenikmatan sementara! 
Dialah yang menceraikan persahabatan di dunia. 
Dialah sang Malaikat Maut,” kata Rasulullah saw.
Fatimah menahan genangan air matanya.
Malaikat maut datang kepada-Nya, tetapi Rasulullah saw. bertanya mengapa Jibril tidak datang bersamanya.
Kemudian Rasulullah saw. menatap putrinya dengan pandangan nanar, seolah-olah ia tak ingin kehilangan setiap bagian dari wajah putrinya.
Kemudian, Jibril dipanggil. 
Jibril sebenarnya telah siap dia langit untuk menyambut ruh Rasulullah sang pemimpin Bumi.
“Wahai Jibril, jelaskan kepadaku tentang hak-hakku di hadapan Allah!”, Rasulullah saw. meminta dengan suara yang sangat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka. Para malaikat sedang menunggu ruh Anda. Semua pintu Surga terbuka luas menunggu Anda” kata Jibril.
Namun, kenyataannya, jawaban itu tidak membuat Rasulullah saw. lega.
Matanya masih penuh kekhawatiran.
“Anda tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.
“Ceritakan tentang nasib umatku di masa depan?” kata Rasulullah saw.
“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, saya mendengar Allah berkata:” Aku haramkan Surga untuk semua orang, sebelum umat Muhammad memasukinya, ” kata Jibril.
Waktu bagi malaikat Izrail melakukan pekerjaannya semakin dekat dan dekat.
Perlahan-lahan, ruh Rasulullah saw. dicabut.
Tampak tubuh Rasulullah saw. bermandikan peluh, saraf lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit ini!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sallalahu mengerang dengan perlahan.
Fatimah memejamkan mata, Ali yang duduk di sampingnya tertunduk dalam dan Jibril pun memalingkan mukanya.
“Apakah aku sedemikian menjijikkan sehingga engkau memalingkan muka wahai Jibril?” Rasulullah saw. bertanya.
“Siapa yang bisa tahan melihat Kekasih Allah di ambang sakaratul mautnya?” kata Jibril.
“Bukan untuk berlama-lama,” kemudian Rasulullah saw. mengerang karena sakit yang tak tertahankan.
“Ya Allah betapa besar Sakaratul maut ini. Berikan kepadaku semua rasa sakit, tapi jangan untuk Umatku.”
Tubuh Rasulullah saw. mendingin, kaki dan dadanya tidak bergerak lagi.
Dengan berlinang air mata, bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu.
Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw., 
“Jagalah shalat dan jagalah orang-orang lemah di antara kamu.”
Di luar ruangan, ada tangisan, ada kegaduhan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Sekali lagi, Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw. dan dengan mulut yang telah membiru serta air mata berlinang, Rasulullah berucap lirih:
 “Ummatii , Ummatii, Ummatii…” “Umatku, umatku, umatku…“
sumber : Blog Al-Habib

Dan demikianlah kisah yang seringkali kita dengar dari dulu,
Tetapi hati ini tak sering menangis rindu mengingatinya,
Moga hari ini dan seterusnya kita sama-sama terus berselawat pada Rasulallah s.a.w
Selawat ke atas Nabi Muhammad s.a.w..
Al-Fatihah...

-----@ Ummie Aie'sya


No comments:

Post a Comment

Lagu Kita

Photobucket

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...